Saturday, 14 May 2016

Tips Berburu Beasiswa Luar Negri Bag.1: Mengisi Form Aplikasi




Seperti sudah aku jelasin di tulisan sebelumnya, aku sudah pernah apply 5 macam beasiswa (ssst…sekarang lagi apply 2 macam lagi…tunggu kabar selanjutnya ya). Nah…di sini, aku mau berbagi sedikit banyak tips sukses dapatin besiswa ke luar negri..

Yang pertama, harus sering nungguin internet, nunggu dibuka aplikasi pendaftaran. Sambil nunggu, baca-baca pengalaman mereka yang udah pernah berburu beasiswa yang sedang kamu incar, dari mulai pengalaman ngisi form apikasi, tahap wawancara, ikut tes internasional, TOEFL atau IELTS. Baca juga tentang negara dan universitas tujuan. Bagi yang mau ambil s3, sebaiknya cari LOA  (Letter of Acceptance) dulu, biar lebih dipertimbangkan untuk lulus. 

Trus, waktu udah mulai buka pendaftaran, baiknya jangan nunggu deadline deh… bisa stress…makan gak ketelan, tidur gak sempat, kalaupun disempatin, gak nyenyak…tersiksa deh pokoknya, beneran nih, pengalaman pribadi… Soalnya kalau belum deadline, masih dicuekin aja form aplikasinya…

Trus waktu ngisi form aplikasi, apapun pertanyaannya, jawab sejujurnya, tapi jangan pula kelewatan jujurnya. Contoh jujur yang kelewatan, “ Alasan saya milih kuliah di University of Sydney, karena sudah lama saya ingin mengunjungi Opera House..”, gak nyambung dengan urusan akademis. Jadi jawaban dari setiap pertanyaan, harus bersifat akademis dan saling mendukung antara jawaban untuk pertanyaan yang satu dengan jawaban untuk pertanyaan lainnya. 

Nah, di atas kan sudah saya suruh baca-baca tentang negara dan universitas tujuan…sekarang waktu ditanya apa alasan milih kuliah di universitas tersebut? Ya jawablah sesuai dengan kata hati dan berdasarkan informasi yang dibaca tentang universitas tersebut, lebih bagus lagi kalau dapat informasi detil tentang jurusan yang dipilih. Misalnya jurusan yang dipilih memang tinggi ranknya di universitas tersebut dibandingkan di universitas lainnya di Australia, walaupun universitas yang dipilih ranknya lebih rendah daripada universitas lain di negara tersebut. Atau yang mau ambil spesialisasi di bidang kanker kulit, setau saya Flinders University yang concern dengan penelitian di bidang itu. 

Pertanyaan lainnya yang sering bingung mau ngejawab apa, “Apa kontribusi yang dapat kamu berikan dengan ilmu yang kamu peroleh sepulang dari kuliah di Negara tersebut?”. Kenapa bingung ya? Karena belum dijalanin, jadi belum terlalu mikir kontribusi yang bisa diberikan untuk Indonesia tercinta. Tapi gini deh, coba tanya-tanya atau baca-baca pengalaman orang lain yang mengambil jurusan yang sama dengan kamu, kira-kira, apa saja yang sudah mereka lakukan, atau berencana dilakukan, atau seharusnya dilakukan, dengan ilmu yang mereka miliki. 

Masih bingung? Saya kasih contoh. Tamat s1, mau ambil s2 bidang education atau teaching, bilang aja ke depannya, dengan bekal ilmu yang saya peroleh dari universitas tujuan, saya akan memberikan pelatihan untuk para guru sekolah menengah. Pada saat menuliskan hal tersebut, mungkin rasanya tidak mungkin bagi kita memberikan training untuk guru-guru, karena para guru kan sudah sangat berpengalaman mengajar? Sedangkan aku, baru lulus s1, cuma ngajar di bimbel dan bantu buatin PR anak tetangga, kok berani-beraninya ngasih training untuk guru-guru senior ya? Tenang temans, itu sekarang, lain ceritanya kalau udah pulang dari luar negri dengan embel-embel M.Ed di ujung nama. Apalagi punya kesempatan mempromosikan diri (kalau nggak punya ya diciptakan lah..), pergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Insya Allah akan sering dipanggil untuk ngisi training, workshop dan seminar. 

Segitu dulu yang saya ingat tentang ngisi form aplikasi, bersambung ke tahap wawancara ya….

Comparison-Contrast Berburu Beasiswa Dalam dan Luar Negri



Pingin kuliah ke luar negri? Buaaanyak beasiswa temans.. jadi bingung karena banyaknya? Atau bingung karena banyaknya isian di form aplikasi yang harus diisi?:) Ok lah, sebelum memilih untuk ngisi form aplikasi yang mana, mari kita banding-bandingkan kelebihan dan kekurangan beasiswa tersebut. 

Mau ngisi form aplikasi beasiswa dalam negri untuk kuliah ke luar negri?  Sejauh ini ngisi formnya masih dalam bahasa Indonesia, satu keuntungan bagi yang belum mahir mengolah kata dalam bahasa Inggris. Kecuali untuk proposal thesis/disertasi yang harus ditulis dalam bahasa Inggris. 

Dibandingkan dengan form aplikasi beasiswa dari luar negri, yang punya dalam negri gak banyak yang perlu diisi. Beasiswa LPDP misalnya, hanya meminta kita menuliskan 2 essay. Gak rumit lah, tulis sejujurnya, insya Allah lulus seleksi administrasi. 

Kalau beasiswa luar negri…wuih, buanyak banget isiannya, sampai bingung mau ngisi apa, sepertinya jawaban antara pertanyaan yang di lembar sebelah dengan yang di lembar sekarang, itu juga ya jawabannya… tenang.. isi aja sejujurnya, asal jangan persis sama, edit lagi kalimatnya, tulis ulang, ubah-ubah dikit sesuaikan dengan pertanyaan. Dan dari baca-baca pengalaman mereka yang berburu beasiswa… beasiswa luar negri lebih  sulit lolos…jadi harus lebih maksimal usahanya.

Tahap wawancara, kalau beasiswa dalam negri yang wawancara sih orang kita…mostly juga pakai bahasa Indonesia, paling ada satu-dua pertanyaan yang diminta jawab pakai bahasa Inggris..tapi saran aku nih, kalau memang mampu berbahasa Inggris, cas cis cus aja terus, jangan lupa persiapkan diri sebaik-baiknya dan berdoa mohon kelancaran berbicara. Tapi hati-hati, jangan sampai terkesan sok gitu..tunjukkan kemampuan dengan tetap menjaga kerendahan hati, bukan rendah diri ya..

Kalau beasiswa luar negri, pasti ada bulenya, biasanya ada juga orang Indonesia. Nah, kalau mampu berbahasa Inggris, usahakan terus pakai bahasa Inggris selama wawancara, keberadaan orang Indonesia sebagai pewawancara, salah satunya untuk mengantisipasi kalau kita kehilangan kosa kata dan terpaksa ‘mix the languages’, ada dia yang ngerti apa yang kita maksudkan. Nah…kalau sudah lolos wawancara, insya Allah kemungkinan besar deh jadi ke luar negri, kecuali takdir berkata lain…

Eit…ada satu urusan lagi, walaupun bukan atas nama seleksi, tapi wajib diikutin. Yap, betul, training pra keberangkatan. Kalau beasiswa ADS atau sekarang namanya AAS (Australian Awards Scholarship), minimal kita ngikutin training selama 8 minggu. Paling lama kalau gak salah 24 minggu, bergantung pada skor IELTS kita. Selama ngikutin training, kita dikasih uang saku, lebih besar dari gaji PNS golongan IIIa yang baru lolos CPNS, beneran, pengalaman pribadi lho!

Training yang diberikan utamanya seputar meningkatkan skill bahasa Inggris, supaya nilai IELTS nya meningkat. Selain itu ada juga kuliah tentang perbedaan budaya, untuk menghindari culture shock. Juga diberi kesempatan ‘meet and greet’ mereka yang udah pernah kuliah dengan beasiswa tersebut. 

Kalau beasiswa dalam negri semisal LPDP, trainingnya cuma 10 hari, malah tahun ini katanya cuma 7 hari. Bagi yang gak mau ninggalin keluarga lama-lama, training yang sebentar ini cocok buat kamu. Tapi bagi yang belum pernah ke negri jauh, harus banyak cari informasi sendiri seputar hidup di negara tujuan.

Sekarang hitung-hitungan uang bulanan beasiswa yok…hehehe…Hal ini sangat penting bagi mereka yang kuliah sambil bawa keluarga, soalnya hampir gak ada beasiswa yang mau nanggung biaya keluarga…

Dari pengalaman pemburu beasiswa, salah satu yang paling mengerti kita itu beasiswa LPDP. Biaya bulanan diberikan per 3 bulan, di bulan ke-7, bagi yang bawa keluarga, ada biaya untuk suami/istri sebesar 25% dari total biaya bulanan, dan 25% lagi untuk satu orang anak. Yang bawa anak lebih dari satu…harus ngirit, lebih baik lagi kalau spousenya ada kerja part time atau bahkan full time. 

Nah, kalau beasiswa luar negri… kalau AAS bulanannya sedikit lebih tinggi daripada LPDP, tapi gak ada biaya keluarga. Beasiswa lainnya..coba cek di webnya masing-masing ya, hehe…tapi setau saya, dua beasiswa di atas yang menawarkan stipend paling banyakJ

Berburu Beasiswa Luar Negeri

Tahun 2005, aku memulai petualangan berburu beasiswa ke luar negri. Pergi ke luar negri memang cita-citaku dari masih di bangku sekolah. Biar mulus, aku sengaja kuliah di jurusan Bahasa Inggris, Alhamdulillah aku lulus jadi dosen di awal tahun 2005, setahun sesudah wisuda s1. Waktu itu jadi dosen masih boleh ijazah s1. Ada 5 form aplikasi beasiswa yang kuisi. 

Yang pertama form beasiswa APS (Australian Partnership Scholarship). APS ini adanya hanya beberapa tahun saja, sebagai bentuk kepedulian Australia atas musibah tsunami yang melanda Aceh di akhir tahun 2004. Beasiswa ini diperuntukkan untuk seluruh anak negri, bukan cuma Aceh. Beasiswa ini gagal total, soalnya ngirimnya aja udah telat 2 hari dari deadline…hehehe... 

Beasiswa Ford Foundation juga aku isi, yang ini lebih seru, banyak pilihan negaranya. Sayangnya, beasiswa ini gak ada lagi sekarang, kurang tau juga kenapa. Sayangnya juga, aku gagal di tahap wawancara. Terakhir aku tau, gagalnya karena aku milih jurusan sastra inggris, sedangkan aku s1 nya pendidikan bahasa inggris, jadi kurang linear lah, dan mereka bilang ga cukup ilmu yang aku peroleh di s1 tentang sastra inggris untuk s2 di bidang tersebut. 

Yang ketiga, beasiswa punya Amrik, Fulbright. Yang ini diwawancara oleh 4 orang sekaligus, waduh, dikeroyok nih, hehehe…2 bule 2 orang kita. Gagal juga, dengan alasan yang sama dengan Ford. Belajar dari dua kegagalan di atas, setelah berdiskusi dengan para senior di jurusanku, aku balik haluan ke English education. 



Alhamdulillah, aku lulus 2 beasiswa sekaligus. Satunya ADS (Australian Development Scholarship-sekarang AAS), satunya lagi beasiswa dari Inggris, dari British Council. Yang terakhir ini beasiswa yang adanya sama seperti APS, karena musibah tsunami juga. Tapi beasiswa ini hanya untuk dosen UNSYIAH dan UIN di Banda Aceh, sebagai Universitas negri. 

Dari 2 beasiswa ini aku milih ADS, soalnya biayanya cukup untuk boyong anak dan suami, walaupun tidak ada biaya untuk keluarga. Lagian ADS durasi kuliahnya 2 tahun, kalau s2 di Inggris cuma setahun. Jadi yang pingin menimba pengalaman hidup di negri orang lebih lama, jangan ke Inggris ya….:)