Monday, 9 January 2017

Kuliah S2: Diantara Perjuangan Merawat Bayi dan Anak yang Mengidap Retinoblastoma (Part 3)



Kembali ke Aceh, aku menjalani hari-hari seperti biasa, merawat Sarah yang sudah sehat dan ceria seperti anak lainnya walaupun mata kanannya berwarna merah bercampur biru dan hitam, juga mengajar di program studi kami sebagai dosen muda. Maret 2007, obat Homeopathy Sarah hampir habis. Oleh mertuaku, kami dianjurkan kembali lagi ke Kuala Lumpur, selain mengambil obat tambahan, Sarah juga perlu di cek-up. Namun selanjutnya kami hanya minta pakcik yang di Kuala Lumpur untuk mengirim obat homeopathy tiap dua bulan, sehingga kami tidak perlu ke Kuala Lumpur, yang tentunya menghabiskan biaya yang tidak kami miliki. Selama ini kami bolak-balik Kuala Lumpur dengan dukungan finansial dari keluarga besar kami, karena saat itu, hanya Sarah satu-satunya cucu dari pihak keluargaku dan keluarga suami, jadi bisa dikatakan kasih sayang memang sepenuhnya tercurah untuk Sarah. 

Akhir Mei 2006, aku yang rencananya berangkat ke Australia bersama suami dan anak kami, terpaksa berangkat hanya bersama teman-teman dengan universitas tujuan yang sama, Flinders University. Hal ini dikarenakan sulitnya memperoleh akomodasi untuk kami sekeluarga. Teman yang mau memberikan tempat tinggal sementara, hanya mau menerima studentnya, dan aku bisa memahami privasi mereka. Teman dari Aceh yang sudah duluan tinggal di Adelaide juga menganjurkan aku berangkat sendiri dulu, karena saat itu musim dingin, dan dia khawatir Sarah akan sakit karena perubahan cuaca. 

Aku lalu berangkat ke Jakarta ditemani suami. Sangat berat rasa hatiku meninggalkan Sarah walaupun penyakit kanker seolah tidak mengganaskan diri. Saat itu Sarah sedang mencret, mungkin karena terlalu banyak mengkonsumsi Semangka, karena ada yang mengatakan, kalau Semangka tidak boleh dikonsumsi oleh bayi yang minum susu formula. Entahlah benar atau tidak, kalaupun benar, tidak ada yang melarang Sarah makan Semangka sebelumya, dan aku juga tidak tau tentang pantangan itu. Sarah juga mulai kubiasakan minum susu karena aku juga mulai mengandung adiknya, dan ada yang mengatakan Sarah mencret karena masih menyusui sedangkan aku sudah mengandung bayi lagi. Entahlah, yang jelas malam sebelum aku berangkat, hampir saja Sarah diinfus… untungnya ketika Mantri langganan keluarga datang untuk pasang infus, Sarah sudah tidur, dan pak Mantri tidak jadi pasang infusnya. Esoknya Sarah tampak agak baikan, aku pun diam-diam berangkat dengan diantar keluargaku, dan Sarah kutitipkan pada Fitri, adik yang tinggal di rumah Mamakku… Terima kasih Fitri… Sampai tulisan ini kuketik, airmata masih menganak sungai di mataku… seperti pada hari aku meninggalkan Sarah…

Aku dan suami sempat berada di Jakarta lima hari untuk keperluan membeli jaket musim dingin, juga membeli baju bayi, untuk persiapan kelahiran anak kami yang kedua yang diperkirakan akan lahir pada bulan Desember, ketika musim panas di Australia. Untuk membeli perlengkapan bayi dalam dollar Australia pastilah mahal, karena itu aku membelinya di pasar kaget di Mampang, pasar langganan kami ketika tinggal di Jakarta selama training di tahun sebelumnya. Selama di Jakarta, aku terus menghubungi Mamak di Aceh, menanyakan kabar keluarga, sekaligus menanyakan kondisi Sarah, Alhamdulillah Sarah semakin hari semakin sehat. 

Setelah memperoleh visa, aku diantar suami ke bandara Soekarno-Hatta, karena malam itu aku akan berangkat ke Adelaide. Setelah kepergianku dengan menumpang pesawat Qantas yang tiketnya sudah dibeli pihak sponsor, suamiku melewatkan malam di bandara dalam suasana hati yang sepi… Itu kali pertama kami berpisah untuk waktu yang tidak ditentukan… Esok harinya, pukul 06.00 pagi suamiku sudah terbang kembali ke Banda Aceh, dan itu melegakanku, karena Sarah kembali bersama abinya.

Sunday, 8 January 2017

Kuliah S2: Diantara Perjuangan Merawat Bayi dan Anak yang Mengidap Retinoblastoma (Part 2)



Setelah anak kami divonis mengidap Retinoblastoma, akhir minggu itu, kami langsung ke Medan. Di RS, oleh dokter, mata Sarah di-USG, dari hasil USG tampak bahwa mata kanannya memang tidak berfungsi lagi, tidak ada garis batas antara bola mata hitam dan putih, hanya garis-garis tak beraturan. Sementara mata sebelah kiri Alhamdulillah normal. Oleh Dokter, Sarah dianjurkan segera rawat inap untuk diangkat bola mata kanannya dan menjalani perawatan kemoterapi sekitar 6 bulan. Aku dan suami saling pandang, akhirnya kami putuskan untuk pulang dan berdiskusi dengan keluarga besar dulu. Kami galau, pasangan muda yang baru punya bayi dan divonis mengidap retinoblastoma, alias kanker mata. Seakan tak percaya bahwa bayi pun bisa mengidap kanker. Dalam becak yang mengantar kami pulang dari RS ke rumah nenekku di Medan Timur, aku menangis…
Sore hari itu, atas anjuran seorang teman, kami membawa Sarah ke pengobatan herbal homeopathy. Malamnya kami putuskan langsung pulang ke Banda Aceh. Selama di Banda Aceh, suamiku aktif mencari tau tentang penyakit yang diderita anak kami melalui internet, juga mencari tau tentang pengobatan alternatif homeopathy. Waktu itu kami juga mengurus paspor, walaupun aku sendiri sedang mengurus paspor dinas, karena dari awal 2005 aku sudah berstatus dosen di FKIP Unsyiah, namun aku juga membuat paspor hijau, karena saat itu suamiku sudah berencana membawa anak kami berobat ke pengobatan homeopathy  di Kuala Lumpur.
Dua minggu setelah kembali dari Medan, tiba-tiba mata Sarah membengkak dan dia terus mengeluh, tak bisa membuka mata, terang saja kami panik, langsung kami mencari tiket pesawat ke Medan dan berangkat siang itu juga. Aku ingat, hari itu tanggal 6 Desember, hari ulang tahunku… Sorenya kami kembali ke pengobatan homeopathy di Medan. Ternyata kata pakar herbal tersebut, dosis obat yang kami berikan terlalu sedikit. Terus terang dosis yang disebutkan memang kurang jelas, hanya disebutkan sejumput sambil memberi contoh dengan pinset. Kami memutuskan untuk segera berangkat ke Kuala Lumpur esok harinya, karena walaupun kami berikan obat herbal tersebut, tapi putri kami terus-terusan merasa tidak nyaman. Dia baru bisa tidur ketika sudah tengah malam dengan bersandar pada suamiku yang dalam posisi bersandar setengah tidur, untunglah suamiku sangat sabar…
Esok paginya, kami langsung terbang ke Kuala Lumpur. Alhamdulillah di Kuala Lumpur ada pakcik suamiku dan keluarganya yang baik hati. Sore itu juga kami diantar ke dokter spesialis mata dan biaya pemeriksaan sebesar RM 200, beliau bayar. Oleh dokter tersebut, lagi-lagi kami diminta segera mebawa anak kami ke hospital besar atau RSU. Namun karena kami masih enggan Sarah yang baru berumur 5.5 bulan menjalani perawatan kemoterapi, maka sesuai niat, kami meneruskan perjalanan mencari alamat pengobatan homeopathy  yang diperoleh suamiku di internet. Setiba di tempat tersebut, pakar herbalnya sedang tidak berada di tempat dan akan kembali ke KL dua hari kemudian atau pada hari Sabtu. Selama dua hari itu kami terus memberikan obat homeopathy pada bayi mungil kami. Ya, mungil, karena dia lahir dengan berat badan 2.6 kg, bulan pertama naik 1 kg, bulan kedua hanya 6 ons, dan bulan-bulan berikutnya tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Alhamdulillah dia tidak mengeluh lagi walaupun mata kanannya masih bengkak.
Sabtu itu juga, kami kembali membawa anak kami menemui pakar homeopathy. Oleh beliau, anak kami diberikan obat tetes di mulut. Alhamdulillah Sarah suka obat-obat homeopathy, karena rasanya enak, manisJ. Sabtu depannya kami kembali ke pakar homeopathy  tersebut untuk cek-up. Alhamdulillah anak kami menunjukkan perkembangan kesehatan yang signifikan. Matanya hampir tidak bengkak lagi, merah di mata juga berkurang. Sebenarnya kami berencana hanya tinggal satu minggu di Kuala Lumpur, namun oleh pakar Homeopathy  tersebut, kami diminta tinggal hingga habis masa visa, yaitu sebulan, untuk melakukan regular cek-up. Alhamdulillah setelah 2 minggu mengkonsumsi obat tetes, selanjutnya Sarah hanya diberikan obat tablet kecil yang dihancurkan pakai sendok karena Sarah belum punya gigi. Tablet tersebut juga rasanya manis. Setelah satu bulan di Kuala Lumpur, kami pulang ke Aceh dengan membawa bekal obat untuk dikonsumsi selama dua bulan. Saat di Kuala Lumpur aku sudah menelpon ke IALF Jakarta, menceritakan kondisi keluargaku dan minta ditunda keberangkatanku ke Australia. Permintaanku dikabulkan dan aku diberi waktu 6 bulan untuk menunda keberangkatan.

Saturday, 7 January 2017

Kuliah S2: Di antara Perjuangan Merawat Bayi dan Anak yang Mengidap Retinoblastoma (Part 1)



Kali ini aku mau berbagi pengalaman waktu kuliah s2 dulu (2007-2009). 

Tahun 2006 aku memperoleh beasiswa AAS (waktu itu namanya ADS) dan harus mengikuti Pre-Departure Training di Jakarta selama 12 minggu dimulai dari 24 Juli 2006. Saat itu aku sedang mengandung anak pertama, dan diperkirakan akan lahir awal Juli. Oleh keluarga besar, aku disarankan berangkat ke Jakarta dalam bulan Mei bersama suami, jadi kami sudah settled di Jakarta sebelum waktu melahirkan tiba, dan selanjutnya mengikuti training. 

Putri pertama kami yang kuberi nama Sarah Shalihah, lahir pada 23 Juni 2006, lebih cepat dari perkiraan, melalui operasi Caesar, karena ketubannya sudah hampir kering sendiri di dalam rahim, tidak tau kenapa. 

Tepat sebulan setelah itu, training di IALF dari pukul 09.00-15.00 senin – jum’at dimulai. Alhamdulillah dari dua hari sebelum aku melahirkan, ibuku sudah hadir mendampingi, hingga hari pulang kembali ke Aceh. Jadi ketika suami mengantar dan menjemputku ikut training di dari rumah sewa kami di Mampang ke lokasi training di Kuningan, ada ibu yang merawat bayi kami, terima kasih Mak…

Selama training kami diajarkan materi-materi bahasa Inggris untuk mempertajam kemampuan kami menjawab soal-soal IELTS (International English Language Testing System). Selain itu kami juga dibimbing untuk mempersiapkan paper yang di akhir training harus kami presentasikan di depan kelas. Kami juga mengikuti kelas Cross-cultural Communication untuk menghindari Culture Shock. Ada juga kuliah umum dimana kami dengan peserta training dari kelas-kelas lainnya bergabung bersama di ruang aula. Kami juga dipertemukan dengan senior kami yang akan mengambil program doctoral di Australia untuk mendengarkan mereka berbagi pengalaman tentang hidup sebagai seorang student di Australia. Selama training, tiap 2 pekan kami harus mengikuti tes IELTS prediction untuk memantau perkembangan kemampuan kami dalam menjawab soal-soal IELTS.

Memasuki bulan kedua training, kami mulai melakukan medical cek-up di rumah sakit yang ditunjuk untuk syarat pembuatan visa. Anak dan suami juga ikut medical cek-up karena memang rencananya kami akan berangkat bersama. Alhamdulillah kami sehat semua dan bisa langsung mengurus visa melalui bantuan pihak sponsor. 

Beberapa hari menjelang hari raya Idul Fitri, trainingku selesai dan aku langsung pulang ke Aceh dengan mamak dan putriku yang hampir genap 4 bulan. Suamiku tinggal di Jakarta karena ingin merasakan I’tikaf di masjid Mampang Prapatan yang terkenal sebagai penghasil huffadz Qur’an. 

Awal Nopember, sambil menyusui bayiku, aku melihat ada kilatan seperti cahaya lampu pada bola mata hitam sebelah kanannya. Awalnya kupikir pantulan cahaya, tapi ketika aku berganti posisi menyusui di tempat lain, cahaya itu tetap ada. Adik perempuanku berinisiatif menutup mata anakku bergantian kanan dan kiri. Ketika mata kanan ditutup, taka da reaksi dari Sarah, tapi ketika yang kiri ditutup, tangannya dimainkan di udara, tanda dia tak ingin kehilangan penglihatan. Segera kami bawa putri kami ke dokter spesialis mata. Setelah memeriksa sebentar, sang dokter langsung mengatakan bahwa anakku mengidap penyakit mata kucing, alias kanker, dan perlu perawatan intensif. Dia menganjurkan kami membawa anak kami berobat ke Jakarta, tentu saja aku bingung, baru pulang dari Jakarta, mau ke Jakarta lagi? Duitnya darimana? Lalu dokter itu bilang, atau paling tidak coba ke Medan. (to be continued...)

Thursday, 29 December 2016

Merasakan Hidup di Amerika: Pengalaman Maya Maulina, Exchange Student UGRAD Program


Aku punya impian, yang mungkin bagi sebagian orang adalah sesuatu yang sulit untuk dicapai, akan tinggal hanya sebagai sebuah impian saja. Untuk gadis dari desa sepertiku yang tidak punya uang banyak untuk jalan-jalan ke luar negri, apalagi ke Amerika, kedengarannya impianku ini benar-benar mustahil untuk diwujudkan. Rasanya sama saja seperti mengharapkan si kucing abu-abu kesayanganku yang sudah tua berubah menjadi unicornberwarna pink, ya, sesuatu yang sama sekali mustahil! Tapi bagiku, tidak ada yang mustahil sepanjang kita berusaha keras mencapainya. 

Ceritanya bermula dari suatu siang di bulan Juni 2013, waktu itu aku dengan teman-temanku lagi nunggu dosen untuk mata kuliah Public Speaking. Mereka asyik ngobrol tentang salah seorang senior kami yang baru pulang dari ngikutin program pertukaran pelajar selama setahun di Amerika. Mendengar cerita teman-teman, anganku melambung tinggi, seolah-olah aku berlari di atas pasir pautih di tepi pantai dengan pemandangan laut yang mempesona, tapi anehnya, aku tidak bisa menikmatinya, karena ada ular hitam jelek yang mengejarku, piuf! Saat itu rasanya hormon epinephrine masuk ke darahku, membuat nafasku tersengal-sengal dan hatiku berdegup kencang. Aku merasa sangat excited, terispirasi, juga iri, semua terjadi pada saat yang bersamaaan. 

Selanjutnya yang aku sadari, aku asyik men-scroll layar telpon genggamku, seharian  membaca tweets seniorku tentang bagaimana dia bisa mengikuti program pertukaran pelajar tersebut. Rasanya tidak percaya bahwa aku begitu terobsesi dengan pengalaman seniorku tinggal dan belajar di Amerika. Akhirnya, di suatu hari yang cerah di bulan Agustus 2013, aku memantapkan diri mengisi form Global UGRAD Program. Program inilah yang membuatku bisa menapakkan kaki dan mengalami hidup di Amerika, Thank You!

Lalu mulailah fase demi fase seleksi kuikuti dengan penuh perjuangan dan pengharapan. Mulai dari mempersiapkan dokumen yang dipersyaratkan, menjalani interview dengan tenang, belajar siang malam untuk persiapan  iBT test, dan menanti pengumuman dengan sabar. Akhirnya, walaupun ada suara-suara sumbang  yang menganggap perjuanganku akan sia-sia, aku bisa membuktikan, bahwa aku berhasil memperoleh apa yang aku yakini aku mampu menggapainya. Setelah  menyisihkan ribuan saingan, aku, bersama empat mahasiswa lainnya, lolos menjadi salah satu awardee  beasiswa  Global Undergraduate (UGRAD) Student Exchange Scholarship Program, beasiswa yang bergengsi dan sangat kompetitif! Alhamdulillah… 

Beasiswa ini diberikan oleh Department of States, yang diorganisir oleh  World Learning, bertempat di Washington D.C. Aku mewakili Indonesia untuk belajar di Missouri State University, dengan mengambil bidang Sastra Inggris. Sejak saat itu, aku berkesempatan merasakan kehidupan kampus di Amerika, juga berkenalan dengan banyak orang dari berbagai penjuru dunia.

Selama proses meng-apply beasiswa, aku juga menghadapi cobaan berupa cemoohan, bahkan dari teman dekatku sendiri, yang menganggap bahwa anganku untuk kuliah di Amerika adalah angan kosong belaka. Namun begitu, cemoohan yang kuterima malah semakin menguatkan tekadku untuk meraih apa yang ku cita-citakan. Dan akhirnya terbukti keberhasilanku memperoleh beasiswa UGRAD menjadi capaian terbesarku selama masa kuliah s1-ku. Mottoku:
“No matter how many people tell you to quit, DON'T! It's your dreams, not theirs.”

Aku berangkat ke Amerika pada Januari 2015, di musim dingin yang indah. Sebelum berangkat, aku menyempatkan menginap semalam di Jakarta untuk keesokan harinya menuju kantor AMINEF guna mengambil visa dan uang saku selama dalam perjalanan sebesar $150. Ini pengalaman pertamaku ke luar negri, dan aku berangkat sendiri, ya, benar-benar sendiri!. Rute yang kutempuh selam 28 jam adalah Banda Aceh-Medan-Jakarta-Tokyo-Chicago-Springfield.  Pukul 01.00 malam waktu setempat barulah pesawat yang kutumpangi landing. Harusnya aku bisa tiba lebih awal, namun pesawat harus delay lebih kurang dua jam di Chicago karena badai salju, dan itulah kali pertama aku melihat salju secara langsung, dari balik jendela pesawat...indah sekali…

Tiba di bandara, supervisorku yang baik dan ganteng, Hunter Klie, sudah dari tadi menunggu. Setelah berbasa-basi sebentar, aku pun diantar ke hotel kampus yang semua biayanya diurus oleh supervisorku.
 

Keesokan harinya dengan dijemput supervisorku yang menumpangi mini bus dari kampus, aku bersama peserta UGRAD dari manca negara menuju kampus untuk mengikuti orientasi pengenalan kampus. Kami menuju kampus masih sambil menenteng koper-koper kami. Orientasi yang dilaksanakan dari pagi itu dimulai dengan jalan-jalan keliling kampus supaya kami tahu dimana letak pustaka, ruang kuliah, kantin, dan lainnya. Hari itu juga kami memperoleh ID card yang sudah terisi voucher untuk makan 3x sehari di kantin dan berlaku selama kami tinggal di sana. Selain itu juga ada tambahan sebesar $250 dolar untuk kami makan di PSU (Plester Student Union). Selain voucer makan, ada juga voucer untuk menggunakan computer, print, scan, dan fotocopy.

Sedikit aku ingin membahas soal makanan. Di kota Springfield ini, aku tak perlu khawatir soal kehalalan makanan, karena di kantin kampus makanan yang halal memang diberi label halal. Pernah ketika suatu ketika aku memesan beef untuk makan siangku di rumah makan di luar kampus, sang chef mendatangiku dengan mengatakan bahwa beef yang kupesan tidak halal karena sebelumnya dia memasak pork menggunakan panci yang sama. Dia menawarkan bagaimana kalau aku menunggu sedikit agak lama supaya dia bisa memasak pesananku dengan menggunakan panci yang berbeda. Khawatir menunggu lama, aku mengganti pesananku dengan memilih seafood. Hal ini tentunya terjadi karena aku memakai jilbab sebagai identitas kemuslimanku. Begitulah hidup di Springfield, kota yang dihuni oleh masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani, namun bersikap terbuka untuk mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda.  

Ok, kita lanjut tentang hari pertamaku di kampus ya. Setelah makan siang, kami diperkenalkan dengan dosen-dosen, para staf di international office, juga saling berkenalan secara formal dengan sesama peserta UGRAD. Sore hari barulah kami diantar ke asrama kampus. Aku menempati asrama yang berbentuk apartemen yang diberi nama “Hammons House”. Layaknya sebuah apartemen, asrama yang kutempati terdiri dari dua kamar yang dihuni oleh dua student. Roommateku semuanya dari Amerika. 

Mengenai biaya hidup (living allowance), ditransfer pada tanggal 1 setiap bulan, jumlahnya $400. Jumlah ini sangat cukup karena hanya digunakan untuk uang saku dan beli pulsa. Untuk beli buku ada dana lain. Begitu pun seandainya aku ingin traveling, seperti yang pernah kulakukan misalnya, ke New York (seorang diri loh!), aku tinggal mengirim email ke pihak sponsor, lalu mereka akan mengirim form yang perlu ku isi untuk pencairan dana traveling. 

Sebelum perkuliahan dimulai, aku berkonsultasi terlebih dahulu dengan supervisorku tentang mata kuliah yang akan kuambil. Disini aku boleh mengambil maksimal 15SKS, namun kuputuskan mengambil 12 SKS saja, yang terdiri dari dua mata kuliah seperti yang kuperoleh di negara asal, satu mata kuliah tentang Amerika, dan satunya lagi mata kuliah bebas. Untuk dua mata kuliah pertama aku mengambil writing composition yang tingkat kesulitannya setingkat academic writing dan satu lagi mata kuliah literature. Untuk mata kuliah academic writing, benar-benar kami diharuskan menulis tanpa ada plagiat sama sekali, setiap kutipan harus ada referensinya yang mengacu pada format MLA referencing. Lain lagi dengan mata kuliah Literature, yang setiap minggunya kami diberi tugas mereview short story, novel atau poetry yang sudah ditentukan judulnya di buku panduan mata kuliah. Setiap minggu pasti ada quiz karena nilai kehadiran dihitung berdasarkan kemampuan menjawab soal yang diberikan. Jadi walaupun hadir di kelas tapi tidak bisa menjawab soal, dianggap tidak hadir, tweng weng weng…

Kelas-kelas yang kuhadiri benar-benar dijalankan dengan setepat-tepatnya oleh dosen pengasuh mata kuliah. Misalkan masuk kelas pukul 15.00 dan berakhir pada pukul 16.40, maka kuliah tidak akan dimulai sebelum tepat pukul 15.00 walaupun sang dosen sudah hadir di kelas beberapa menit sebelumnya, juga tidak akan keluar dari kelas sebelum sesi kuliah berakhir pada menit tersebut, piuh! Pernah suatu ketika terjadi badai salju sehingga kelas harus diliburkan, tetap saja ada tugas yang diberikan. 

Dua mata kuliah lainnya, kupilih American Culture, yang metode kuliahnya didominasi dengan presentasi in pair, dan kelas Bahasa Spanyol level beginner. Kelas yang terakhir ini diasuh oleh professor asal Venezuela. Semua mahasiswa di kelas, kecuali aku, adalah rakyat Amerika, dan mereka sudah pernah mempelajari bahasa Spanyol sebelumnya di sekolah menengah. Namun, walaupun aku satu-satunya mahasiswa yang belum pernah bersentuhan dengan bahasa Spanyol, namun, akulah yang paling unggul ketika diminta mengucapkan abjad bahasa Spanyol, ya, karena cara pengucapannya kurang lebih sama dengan bahasa Indonesia, hehe… Juga ketika diminta membaca sebuah essay pendek, akulah yang paling fasih:D 

Selama mengikuti kuliah, aku tidak memiliki masalah dalam menjalankan waktu shalat, karena memang aku memilih kelas yang tidak berbenturan dengan jam melaksanakan shalat. Namun begitu, bagi yang hendak menunaikan shalat, mereka diizinkan untuk keluar kelas, dan peraturan itu tercantum di silabus semua mata kuliah. Ya, kebebasan beragama benar-benar dijunjung tinggi, Alhamdulillah… Di Missouri State University ini memang tidak ada mushalla untuk shalat, tapi ada ruangan di perpustakaan yang dapat dipergunakan untuk tempat menunaikan shalat. Bagi yang ingin menunaikan shalat di Mesjid, biasanya untuk shalat Jum’at, masjid terdekat hanya berjarak 15 menit dari kampus dengan mobil.

Di Missouri State University ini, ada kelas Religious Studies. Setiap minggunya diadakan sesi untuk menjelaskan dan mengetahui lebih banyak tentang agama lain. Kebetulan minggu itu adalah sesi untuk agama Islam. Mahasiswa muslim yang akan menghadiri acara itu hanya sekitar tiga orang, termasuk aku. 

Pada hari yang telah ditentukan, aku pun hadir di kegiatan tersebut, ternyata, dua mahasiswa muslim lainnyatidak jadi hadir, walhasil, hanya aku sendiri yang muslim dan sendiri juga untuk menjawab berbagai pertanyaan yang menghadang, piuh! Memulai acara, aku ditodong untuk memberi presentasi dengan judul “Women in Islam”. Tanpa persiapan, karena memang tidak ada pemberitahuan sebelumnya, maka, “Bismillah”, ku awali dengan, “Women in Islam are just like women in the other part of this world, they study, eat and poop,” yang langsung disambut dengan tawa dari hadirin. Presentasi yang berlangsung selama 90 menit berjalan lancar. Lalu disambung dengan tanya jawab, macam-macam pertanyaan yang mereka lontarkan, mulai dari wajibkah berhijab, tentang shalat, larangan memakan babi, pluralisme di Indonesia, relationship (taaruf)….. dan lain-lain.

Hari-hariku di negeri Paman Sam adalah hari-hari indah yang tak terlupakan. Aku berteman dengan orang-orang yang tidak seumuran denganku, hang out dengan teman-teman yang bahasa ibunya tidak sama denganku. Aku juga berkesempatan mempelajari budaya yang berbeda, jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah. Aku menari dengan gaya yang aneh di depan khalayak. Menyampaikan pidato dengan bahasa Inggris sebisaku di depan orang ramai, bahkan mengatakan hal yang tolol tapi lucu dalam bahasa yang sedang kupelajari-bahasa Spanyol. Namaku juga selalu salah disebut setiap kali aku memesan Starbucks. Aku juga tidak tau cara menyetor uang koin, jadi terpaksa uang koinnya kudeposit semua hahaha juga terkadang pakai baju yang tidak sesuai dengan cuaca karena aku tidak pernah mengecek prakiraan cuaca. Aku juga sempat berlibur ke New York City selama seminggu, sendirian! Dan aku merasa sangat bahagia, berkesempatan pergi ke mana saja, rasanya seperti gelembung sabun yang bebas terbang! akhirnya, aku bisa merasakan salju, yeay! Ya, pengalaman ini menjadi hal terindah dalam hidupku. 

Akhirnya saat itu tiba, aku harus kembali ke Aceh, Indonesia, menjalani hari-hariku kembali sebagai mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Syiah Kuala. Ada rasa aneh yang kurasakan ketika meninggalkan Amerika; bahwa aku kembali, tapi dengan pribadi yang berbeda. Ya, kesempatan menjadi seorang exchange student telah membuka mataku tentang dunia dan harapan-harapan baru untuk masa depanku, dan aku merasa sangat bersyukur kepada Allah, juga berterima kasih pada semua orang, yang telah membuat impianku menjadi kenyataan…